Label

Tampilkan postingan dengan label 2. Profil Wirausahawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2. Profil Wirausahawan. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Oktober 2010

FAUZI SALEH, Mantan Petugas Keamanan menjadi Pengusaha Sukses

Fauzi Saleh, contoh seorang pengusaha sukses sekaligus dermawan. Ini berkat kompak dengan karyawannya. Derai tawa dan langgam bicaranya khas betawi. Itulah gaya H. Fauzi Saleh dalam meladeni tamunya. Pengusaha perumahan mewah Pesona Depok dan Pesona Khayangan yang hanya lulusan SMP tersebut memang lahir dan dibesarkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Setamat dari SMP pada tahun 1966, beliau telah merasakan kerasnya kehidupan di ibukota. Saat itu Fauzi terpaksa bekerja sebagai pencuci mobil di sebuah bengkel dengan gaji Rp 700 per minggu. Bahkan delapan tahun silam, dia masih dikenal sebagai penjaga gudang di sebuah perusahaan. Tapi, kehidupan ibarat roda yang berputar.
Sekarang posisi ayah 6 anak yang berusia 45 tahun ini sedang berada diatas. Pada hari ulang tahunnya itu, pria bertubuh kecil ini memberikan 50 unit mobil kepada 50 dari sekitar 100 karyawan tetapnya. Selain itu para karyawan tetap dan sekitar 2.000 buruh mendapat bonus sebulan gaji. Total Dalam setahun, karyawan dan buruhnya mendapat 22 kali gaji sebagai tambahan, 3 bulan gaji saat Idul Fitri, 2 bulan gaji saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Haji, dan 1 bulan gaji saat 17 Agustus, tahun baru dan hari ulang tahun Fauzi. Selain itu, setiap karyawan dan buruh mendapat Rp 5.000 saat selesai shalat Jumat dari masjid miliknya di kompleks perumahan Pesona Depok.
Sikap dermawan ini tampaknya tak lepas dari pandangan Fauzi, yang menilai orang-orang yang bekerja padanya sebagai kekasih. “Karena mereka bekerjalah saya mendapat rezeki.”, katanya. Manajemen kasih sayang yang diterapkan Fauzi ternyata ampuh untuk memajukan perusahaan. Seluruh karyawan bekerja bahu-membahu. “Mereka seperti bekerja di perusahaan sendiri.” Katanya.
Prinsip manajemen “Bismillah” itu telah dilakukan ketika mulai berusaha pada tahun 1989 silam, yaitu setelah dia berhenti bekerja sebagai petugas keamanan. Berbekal uang simpanan dari hasil ngobyek sebagai tukang taman,sebesar 30 juta, beliau kemudian membeli tanah 6 x 15 meter sekaligus membangun rumah di jalan jatipadang, jakarta selatan.
Untuk menyiapkan rumah itu secara utuh diperlukan tambahan dana sebesar 10 juta. Meski demikian, Fauzi tidak berputus asa. Setiap malam jumat, Fauzi dan pekerjanya sebanyak 12 orang, selalu melakukan wirid Yasiin, zikir dan memanjatkan doa agar usaha yang sedang mereka rintis bisa berhasil. Mungkin karena usaha itu dimulai dengan sikap pasrah, rumah itupun siap juga. Nasib baik memihak Fauzi. Rumah yang beliau bangun itu laku Rp 51 juta. Uang hasil penjualan itu selanjutnya digunakan untuk membeli tanah, membangun rumah, dan menjual kembali. Begitu seterusnya, hingga pada 1992 usaha Fauzi membesar. Tahun itu, lewat PT. Pedoman Tata Bangun yang beliau dirikan, Fauzi mulai membangun 470 unit rumah mewah Pesona Depok 1 dan dilanjutkan dengan 360 unit rumah pesona Depok 2. Selanjutnya dibangun pula Pesona Khayangan yang juga di Depok. Kini telah dibangun Pesona Khayangan 1 sebanyak 500 unit rumah dan pesona khayangan 2 sebanyak 1100 unit rumah. Sedangkan pesona khayangan 3 dan 4 masih dalam tahap pematangan tanah.
Harga rumah group pesona milik Fauzi tersebut antara 200 juta hingga 600 juta per unit. Yang menarik tradisi pengajian setiap malam jumat yang dilakukannya sejak awal, tidak ditinggalkan. Sekali dalam sebulan, dia menggelar pengajian akbar yang disebut dengan pesona dzikir yang dihadiri seluruh buruh, keluarga dan kerabat di komplek pesona khayangan pertengahan september lalu, ada sekitar 4.000 orang yang hadir. Setiap orang yang hadir mendapatkan sarung dan 3 stel gamis untuk shalat. Setelah itu, ketika beranjak pulang, setiap orang tanpa kecuali, diberi nasi kotak dan uang Rp 10.000. tidak mengherankan, suasana berlangsung sangat akrab. Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Tidak ada perbedaan antara bawahan dan atasan. Menurut Fauzi, beliau sendiri tidak pernah membayangkan akan menjadi seperti ini.
“Ini semua dari Alloh. Saya tidak ada apa2nya.” Kata pria yang sehari-hari berpenampilan sederhana ini. Karena menyadari bahwa semua harta itu pemberian Alloh, Fauzi tidak lupa mengembalikannya dalam bentuk infak dan shadaqoh kepada yang membutuhkan. Tercatat, beberapa masjid telah dia bangun dan sejumlah kaum dhuafa dan janda telah disantuninya. Usaha yang dijalankannya tersebut, menurut Fauzi ibarat menanam padi. “Dengan bertanam padi, rumput dan ilalang akan tumbuh. Ini berbeda kalau kita bertanam rumput, padi tidak akan tumbuh”. Kata Fauzi.
Artinya, Fauzi tidak menginginkan hasil usaha untuk dirinya sendiri. “Saya hanya mengambil, sekedarnya, selebihnya digunakan untuk kesejahteraan karyawan dan sosial.” Katanya. Sekitar 60 % keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial, sedangkan selebihnya dipakai sebagai modal usaha. Sejak empat tahun lalu, ada Rp 70 milyar yang digunakan untuk kegiatan sosial. “Jadi, keuntungan perusahaan ini adalah nol.” Kata Fauzi. ” Jika setiap bangun pagi , kita bisa mensyukuri dengan tulus apa yang telah kita miliki hari ini, niscaya sepanjang hari kita bisa menikmati hidup ini dengan bahagia”


http://zasmiarel.wordpress.com/2008/10/21/fauzi-saleh-mantan-petugas-keamanan-menjadi-pengusaha-sukses/

Aburizal Bakrie

Ir. H. Aburizal Bakrie (lahir di Jakarta, 15 November 1946; umur 63 tahun) adalah seorang pengusaha Indonesia yang merupakan Ketua Umum Partai Golkar sejak 9 Oktober 2009. Ia pernah menjabat Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat dalam Kabinet Indonesia Bersatu. Sebelumnya ia juga pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Perekonomian dalam kabinet yang sama, namun posisinya berubah dalam perombakan yang dilakukan presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 5 Desember 2005.
Dia adalah anak sulung dari keluarga Achmad Bakrie, pendiri Kelompok Usaha Bakrie, dan akrab dipanggil Ical. Selepas menyelesaikan kuliah di Fakultas Elektro Institut Teknologi Bandung pada 1973, Ical memilih fokus mengembangkan perusahaan keluarga, dan terakhir sebelum menjadi anggota kabinet, dia memimpin Kelompok Usaha Bakrie (1992-2004).
Selama berkecimpung di dunia usaha, Ical juga aktif dalam kepengurusan sejumlah organisasi pengusaha. Sebelum memutuskan meninggalkan karier di dunia usaha, dia menjabat sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) selama dua periode (1994-2004).
Pada 2004, Ical memutuskan untuk mengakhiri karier di dunia usaha, setelah mendapat kepercayaan sebagai Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Kabinet Indonesia Bersatu periode 2004-2009. Dan sejak terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar 2009-2010, waktu dan energinya tercurah untuk mengurus partai.


http://id.wikipedia.org/wiki/Aburizal_Bakrie

Kisah Sukses Made Ngurah Bagiana

(Di rumah mungil di kawasan Perumnas Klender, Jakarta Timur, belasan pegawai berkaus merah kuning terlihat sibuk. Roti, daging, sosis, hingga botol-botol saus kemasan bertuliskan Edam Burger disusun rapi dalam wadah-wadah plastik siap edar. Seorang lelaki bercelana pendek berhenti bekerja, lalu keluar menyambut NOVA.
Lulusan STM bangunan ini mengawali bisnisnya hanya dengan dua gerobak.Kini, ia memiliki 10 pabrik dan 2.000outlet Edam Burger yang tersebar di seluruh Indonesia. Segalanya tentu tak mudah diraih. Bahkan, ia pernah menjalani hidup yang keras di Jakarta.
Pembawaannya sederhana, tak ubahnya seperti pegawai lain. Sambil tersenyum hangat, ia pun memperkenalkan diri. “Aduh maaf, ya, saya tidak terbiasa rapi, hanya pakai oblong dan celana pendek,” tutur Made Ngurah Bagiana, sang pemilik Edam Burger. Beberapa saat kemudian, Made bercerita.)
Terus terang, saya suka malu dibilang pengusaha sukses yang punya banyak pabrik dan outlet. Bukan tidak mensyukuri, tapi saya hanya tak mau dicap sombong. Saya mengawali semua usaha ini dengan niat sederhana: bertahan hidup. Makanya, sampai sekarang saya ingin tetap menjadi orang yang sederhana. Sesederhana masa kecil saya di Singaraja, Bali.
Orang tua memberi saya nama Made Ngurah Bagiana. Saya lahir pada 12 April 1956 sebagai anak keenam dari 12 bersaudara. Sejak kecil, saya terbiasa ditempa bekerja keras. Malah kalau dipikir-pikir, sejak kecil pula saya sudah jadi pengusaha. Bayangkan, tiap pergi ke sekolah, tak pernah saya diberi uang jajan. Kalau mau punya uang, ya saya harus ke kebun dulu mencari daun pisang, saya potong-potong, lalu dijual ke pasar.
Menjelang hari raya, saya pun tak pernah mendapat jatah baju baru. Biasanya, beberapa bulan sebelumnya saya memelihara anak ayam. Kalau sudah cukup besar, saya jual. Uangnya untuk beli baju baru. Lalu, sekitar usia 10 tahun, saya harus bisa memasak sendiri. Jadi, kalau mau makan, Ibu cukup memberi segenggam beras dan lauk mentah untuk saya olah sendiri.
PENSIUN JADI PREMAN
Begitulah, hidup saya bergulir hingga menamatkan STM bangunan tahun 1975. Bosan di Bali, saya pun merantau ke Jakarta tanpa tujuan. Saya menumpang di kontrakan kakak saya di Utan Kayu. Untuk mengisi perut, saya sempat menjadi tukang cuci pakaian, kuli bangunan, dan kondektur bis PPD.
Kerasnya kehidupan Jakarta, tak urung menjebloskan saya pada kehidupan preman. Bermodal rambut gondrong dan tampang sangar, ada-ada saja ulah yang saya perbuat. Paling sering kalau naik bis kota tidak bayar, tapi minta uang kembalian. (Sambil berkisah, Made terbahak tiap mengingat pengalaman masa lalunya. Berulang kali ia menggeleng, lalu membenarkan letak kacamatanya).
Toh, akhirnya saya pensiun jadi preman. Gantinya, saya berjualan telur. Saya beli satu peti telur di pasar, lalu diecer ke pedagang-pedagang bubur. Ternyata, usaha saya mandeg. Saya pun beralih menjadi sopir omprengan. Bentuknya bukan seperti angkot ataupun mikrolet zaman sekarang, masih berupa pick-up yang belakangnya dikasih terpal. Saya menjalani rute Kampung Melayu – Pulogadung – Cililitan.
Tahun 1985, saya pulang ke kampung halaman. Pada 25 Desember tahun itu, saya menikah dengan perempuan sedaerah, Made Arsani Dewi. Oleh karena cinta kami bertaut di Jakarta, kami memutuskan kembali ke Ibu Kota untuk mengadu nasib. Kami membeli rumah mungil di daerah Pondok Kelapa. Waktu itu saya bisnis mobil omprengan. Awalnya berjalan lancar, tapi karena deflasi melanda tahun 1986-an, saya pun jatuh bangkrut. Kerugian makin membengkak. Saya harus menjual rumah dan mobil. Lalu, saya hidup mengontrak.
NYARIS TERSAMBAR PETIR
Titik cerah muncul di tahun 1990. Saya pindah ke Perumnas Klender. Tanpa sengaja, saya melihat orang berjualan burger. Saya pikir, tak ada salahnya mencoba. Saya nekad meminjam uang ke bank, tapi tak juga diluluskan. Akhirnya saya kesal dan malah meminjam Rp 1,5 juta ke teman untuk membeli dua buah gerobak dan kompor.
Bahan-bahan pembuatan burger, seperti roti, sayur, daging, saus, dan mentega, saya ecer di berbagai tempat. Dibantu seorang teman, saya menjual burger dengan cara berkeliling mengayuh gerobak. Burger dagangannya saya labeli Lovina, sesuai nama pantai di Bali yang sangat indah.
Banyak suka dan duka yang saya alami. Susahnya kalau hujan turun, saya tak bisa jalan. Roti tak laku, Akhirnya, ya, dimakan sendiri. Masih untung karena istri saya bekerja, setidaknya dapur kami masih bisa ngebul. Pernah juga gara-gara hujan, saya nyaris disambar petir. Ketika itu saya tengah memetik selada segar di kebun di Pulogadung. Tiba-tiba hujan turun diiringi petir besar. Saya jatuh telungkup hingga baju belepotan tanah. Rasanya miris sekali.
Di awal-awal saya jualan, tak jarang tak ada satu pun pembeli yang menghampiri, padahal seharian saya mengayuh gerobak. Mereka mungkin berpikir, burger itu pasti mahal. Padahal, sebenarnya tidak. Saya hanya mematok harga Rp 1.700 per buah. Baru setelah tahu murah, pembeli mulai ketagihan. Dalam sehari bisa laku lebih dari 20 buah.
Untuk mengembangkan usaha, saya mengajak ibu-ibu rumah tangga berjualan burger di depan rumah atau sekolah. Mereka ambil bahan dari saya dengan harga lebih murah. Sungguh luar biasa, upaya saya berhasil. Dalam dua tahun, gerobak burger saya beranak menjadi lebih dari 40 buah. Saya pun pensiun menjajakan burger berkeliling dan menyerahkan semua pada anak buah.
Tak berhenti sampai di situ, tahun 1996 saya mencoba membuat roti sendiri dan membuat inovasi cita rasa saus. Seminggu berkutat di dapur, hasilnya tak mengecewakan. Saya berhasil menciptakan resep roti dan saus burger bercita rasa lidah orang Indonesia. Rasanya jelas berbeda dengan burger yang dijual di berbagai restoran cepat saji.


http://freddyiriawan.com/succes-story/kisah-sukses-made-ngurah-bagiana/

PROFIL TOKOH WIRAUSAHA Pak Bagyo: “ Kebun Asri “ Cangkringan Sleman DIY

Pak Bagyo merupakan pensiunan BRI. Selama 30an tahun beliau bergelut dengan bidang perbankan terutama konsentrasi bidang pelunasan kredit dan pembukuan. Kedua bidang ini konon paling tidak diminati peniti karier di bank, tapi malah beliau menganggap ini peluang untuk melejitkan kariernya.
Tahun 2000an menjelang pensiun, beliau berkomitmen terjun ke dunia wirausaha. Pintu mulai terbuka ketika ada order (peluang). Dengan tanpa basa-basi mengatakan “sanggup” untuk menangkap peluang itu. Kemudian jeli memanfaatkan setiap peluang untuk mengembangkan usahanya. Bidang usaha yang digeluti ada 4, sbb.:
  1. Rental Tanaman
Tanaman di sewakan berdasar per titik (pot). Sewa tanaman sekitar Rp 30.000/bulan. Tiap 2 minggu, tanaman ditukar dengan tanaman baru yang masih segar. Tanaman yang 2 minggu dalam ruangan dipanaskan lagi di kebun selama 3 minggu. Demikian rotasinya, agar tanaman tetap segar dan berkecukupan terhadap kebutuhan sinar matahari (fotosintesa).
Kata beliau, bisnis ini yang paling rendah resikonya karena hanya konsentrasi pada tenaga dan transportasi penempatan-pemulangan barang. Instansi biasanya juga tidak siap untuk merawat tanaman, sehingga lebih senang rental saja.Bisnis beliau ini merupakan leader di Yogya dan saat ini lebih dari 20 instansi menjadi pelanggannya.
  1. Pemasok sayuran di supermarket
Saat ini beliau adalah pelanggan tetap untuk memasuk sayuran di beberapa supermarket di Yogya, Solo, dan Semarang. Sayur kebanyakan berasal dari sekitar wilayah tinggalnya di Kecamatan Cangkringan Sleman. Namun karena kebutuhan yang banyak, beliau mendatangkan sayur dari sekitar Dukun – Muntilan – Magelang. Bahkan ada beberapa sayuran tertentu yang didatangkan dari Jakarta apabila tidak musimnya.Yang menarik, aktifitas bisnis ini mulai malam sampai pagi hari. Karena barang
harus sudah disetorkan ke supermarket jam 5 pagi. Jadi pengemasan sering dilakukan tengah malam sampai dini hari.
  1. Dekorasi Manten dengan tanaman/bunga asli
Keuntungan di bisnis ini mencapai 100%. Jadi bila harga order 10 juta, keuntungan bersih 5 jt. Namun pekerjaan ini memerlukan ritme kerja yang berpacu dengan waktu. Seperti kita tahu, gedung pernikahan biasanya dibagi menjadi 3 sesi, yaitu pagi-siang, siang-sore, dan petang-malam. Tiap sesi hampir pasti bukan dari pemesan yang sama dan nuansa desainnya selalu berbeda. Padahal pelaksanaan dekorasi harus dilaksanakan di tempat itu juga. Sehingga dalam waktu yang singkat harus sudah selesai.Tanaman/bunga asli sebagian berasal dari kebunnya, namun kebanyakan masih pesan
di Bandung atau bahkan dari luar negeri.
  1. Pemancingan
Wilayah Cangkringan merupakan kaki gunung merapi yang melimpah mata airnya. Sumber mata air ini sering dimanfaatkan untuk kolam ikan. Beliau juga membuka bisnis pemancingan untuk para pemancing, warung dan pendidikan lingkungan.
Di samping bisnisnya ini, beliau melakukan ’subsidi silang’ apabila melakukan kegiatan sosial (gratis) seperti pendidikan lingkungan untuk anak sekolah, ceramah wirausaha di kampus, dan melayani kunjungan studi banding dari siswa/mahasiswa.
Beliau juga kadang melakukan pemberdayaan dengan masyarakat petani di sekitarnya, namun kadang terkendala besar untuk mengangkat ke arah mental wirausaha yang mengikuti kemauan pasar.
Beliau juga sering diundang mengisi pelatihan wirausaha untuk pegawai instansi yang menjelang purna tugas (pensiun) di berbagai hotel di beberapa kota di Indonesia.
Penemuan beliau yang paling fenomenal adalah Cangkokan model RS (Rahman Subagyo), yaitu dengan cara menyayat kulit pohon (sampai kekayunya) dari bawah ke atas, satu bagian saja. Sayatan itu dibungkus dengan tanah/kompos yang dimasukkan ke dala plastik (ukuran wadah es lilin). sebulan kemudian akan tumbuh akar.
Kalau kita mau ngangsu kawruh (belajar) ke sana, jangan sungkan dan ragu, beliau sangat ‘welcome’ pada siapa saja yang mau sharing ilmu.
Slogan beliau : temukan peluang dulu, baru membuat barang sesuai pesanan.
Jangan sebaliknya, asyik membuat produk tapi tidak tahu dipasarkan dimana.


http://blog.math.uny.ac.id/ikaabshita/2010/01/15/profil-tokoh-wirausaha-pak-bagyo-%E2%80%9C-kebun-asri-%E2%80%9C-cangkringan-sleman-diy/

Sri Suharti

Di penghujung usia 70an tahun, semangatnya menekuni fotografi tetap besar. Terlahir sebagai anak keempat dari enam bersaudara, Sri Suharti mulai memotret sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bersenjata kamera Rolleicord milik temannya, Sri Suharti [kelahiran 10 Agustus 1930] mulai menekuni dunia fotografi. Ia menjadikan teman-teman sekolahnya sebagai model ndeso [gaya desa] -meminjam istilah Sri Suharti sendiri. Padahal, pada waktu itu belum banyak orang yang memiliki kamera film berformat 120 milimeter. Kegemaranannya di jagat gambar film semakin kuat ketika ayahnya menghadiahi kamera saat Sri duduk di bangku sekolah menengah pertama khusus putri di Pasar Legi, Solo.
Agresi Belanda yang memporak-porandakan sendi-sendi kehidupan di kota Solo menyebabkan Sri Suharti tidak sempat meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Ia masih ingat pada waktu rumahnya di Panularan dijadikan dapur umum para pejuang yang bergerilya melawan Belanda. Bahkan ia sempat terjun ke dalam kancah pertempuran sebagai spion gerilyawan yang dipimpin Slamet Riyadi di Solo. Sri Suharti sempat mengabadikan para pejuang yang bersembunyi di rumahnya. “Saya tidak tahu apakah masih ada sisa-sisa gambar para pejuang itu,” ujarnya
Kegemaran Sri memotret nyaris terkubur setelah ayahnya tutup usia pada tahun 1950. Selama empat tahun setelah ayahnya meninggal dunia, praktis ia tak banyak menyalurkan hobi memotret lagi. “Sehari-hari kerjaannya hanya melamun dan merenungi nasib,” ujarnya. Keadaan berubah setelah ia menerima pinangan Murjito, seorang pegawai negeri bagian dokumentasi dan humas di Balai Kota Surakarta pada tahun 1954.
“Setelah menikah dengan Mas Murjito, mulai tumbuh semangat memotret kembali,” ingatnya. Masih menggunakan kamera pinjaman merk Rolleiflex dan Rolleicord, Sri kembali menekuni dunia yang nyaris dilupakannya. Suaminya, Murjito, mendorongnya untuk kembali bergelut menekuni dunia fotografi dan mengabadikan berbagai peristiwa di kota Solo pada tahun 1970-an. “Mungkin hampir 16 tahunan lebih saya ndak memotret,” ujarnya mengenang.
Meski suaminya seorang pegawai negeri di lingkungan Balai Kota, kehidupan keluarganya tetap bersahaja. Kehidupannya mulai membaik ketika Sri Suharti memperoleh kepercayaan memotret di lingkungan Keraton Kasunanan Surakarta. Ia mendapat tawaran job saat keraton menyelenggarakan kegiatan keluarga. Karena hasil yang memuaskan, ia dipercaya menjadi salah satu fotografer ndalem Keraton Surakarta pada pertengahan tahun 1970an. Ia masih ingat betul, pada saat seorang anak Paku Buwono X memintanya memotret acara ulang tahun seorang putri keraton. Ia diminta menggunakan film berwarna. “Sejak saat itulah saya menggunakan film berwarna,” katanya.Sejak menjadi fotografer resmi kraton, pesanan memotret pun berdatangan. Bahkan seorang jenderal pernah pula memberikan order besar dalam acara duka di Sukoharjo, ketika salah satu anggota tentara pasukan Garuda meninggal di Kairo, Mesir. Honor yang diperolehnya waktu itu cukup besar, yaitu Rp 25 ribu. “Saya gunakan kamera Zeiss Icon 645 yang sering saya pakai pada event penting,” tuturnya.
Karena kesetiaannya mengabdi, Sri Suharti ditawari gelar kehormatan dari keraton, namun tidak serta merta gelar itu diterimanya. Anak bungsunya, yang juga bekerja sebagai abdi dalem keraton, lantas mengurus hal-hal yang berkaitan dengan penganugerahan gelar untuk ibunya. Tahun 2000, setelah 20 tahun mengabdi, barulah Sri Suharti mau menerima gelar Nyi Lurah Listyowati dari keraton. Pada tahun 2006 jenjangnya dinaikkan kembali dan ia memperoleh gelar baru, Nyi Tumenggung Trisno Prasetyaningtyas.
Sri Suharti tetap rendah hati dan tidak pernah membuat jarak dengan orang-orang yang akan difoto ataupun para abdi dalem lain. Bersama keenam anaknya ia tetap menempati rumah kecil ukuran 6X10 meter-persegi di pinggiran kota Solo. Cucunya kini sudah 17 orang.
Berkat ketekunannya di fotografi, Sri Suharti hingga kini memiliki koleksi beberapa kamera bermutu. Bahkan ia pernah menerima hadiah kamera dari sosok-sosok fotografer terkemuka di Jakarta. “Saya diberi Mas Darwis Canon Ftb, Seagull, Nikon EM, Nikon FM2 berikut flash Metz CT 60 lawas,” katanya. “Lumayan buat motret, tambahan uang jajan cucu-cucu. Sekali jepret bisa 10 ribu sampai 25 ribu rupiah. Tergantung yang akan dipotret,” tambahnya. Selama menggeluti hobi itu, seabrek pengalaman dikantonginya. Selain bisa mengoperasikan kamera manual maupun digital, pengalaman pahit dan senang pun silih berganti ditemui. Misalnya, jari kelingking sebelah kanannya sempat putus ketika menumpang becak menuju kraton. "Becak yang saya tumpangi jatuh ke sungai, ketika akan berangkat motret di keraton, sekitar tahun 1975. Jari kelingking saya luka parah dan harus diamputasi," tutur Sri.
Pengalaman pahit lain juga ditemui ketika hendak pulang ke rumah usai memotret acara di kraton. Ketika itu, dia dijemput anaknya menggunakan kendaraan bermotor. Sampai di tengah jalan, sepedanya ditabrak mobil. Akibatnya, lengan kirinya sempat cidera parah. Tapi beruntung, semua cedera itu tidak sampai mengganggu aktivitasnya menekuni fotografi.
Di balik kenangan pahit itu, Sri sering dapat pengalaman menantang. Sekitar 1976, dia ditantang salah satu paranormal untuk memotret senjata di petilasan Sri Aji Joyoboyo, Jawa Timur. Petilasan itu ketika dia ditantang masih dijaga oleh prajurit TNI. "Saya izin sang komandan, Laksamana Sudomo. Akhirnya, diperbolehkan motret senjata para prajurit," terang Sri.
Sri masih bertahan menggeluti profesi itu hingga kini. Sebab, dia harus mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya. Suwarangwati Ciptaningsih, anaknya, menyatakan sang ibu sering berkata akan tetap menggeluti profesinya sampai nyawa dijemput. "Ibu tidak mau berhenti motret Inginnya tetap motret sampai nyawa dijemput Tuhan," tutur Watik,


 http://forum.nationalgeographic.co.id/topic-479.html